kolam itu memang Naomi Ishida. Sepertinya gadis itu sedang melamun karena ia
melangkah dengan pelan dan dengan kepala tertunduk. Dan mengarah ke kolam.
Astaga.
Dalam beberapa langkah, Danny sudah tiba di samping Naomi dan
mencengkeram lengannya. “Kau mau terjun ke dalam kolam?”
Naomi tersentak kaget dan mengangkat wajah. Matanya mengerjap satu kali,
lalu melebar sementara otaknya mencerna siapa yang berdiri di hadapannya.
“Danny,” gumamnya pelan, lalu memandang sekelilingnya dengan bingung.
Setelah memastikan Naomi berdiri agak jauh dari kolam, Danny melepaskan
cengkeramannya dan menjejalkan kedua tangan ke dalam saku celana. Selama
beberapa detik mereka hanya berdiri dan berpandangan tanpa berkata apa-apa.
Akhirnya Danny membuka suara. “Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu
di sini.”
Naomi mengangguk dan berdeham. “Aku juga. Kudengar kau pergi ke Dublin.”
“Aku kembali ke London kemarin sore.”
“Oh, begitu.” Ia menatap Danny sejenak, lalu dengan resah memalingkan wajah
ke arah pepohonan di sebelah kirinya dan bergumam, “Maafkan aku.”
“Untuk apa?”
Naomi menggigit bibir sejenak dan kembali menatap Danny. “Karena katakataku
waktu itu. Aku tidak bermaksud... Aku hanya...” Naomi menghentikan katakatanya
yang kacau dan menarik napas panjang untuk mengendalikan diri. “Waktu
itu aku sedang tidak berpikir jernih. Maafkan aku.”
Danny mendesah dan tersenyum tipis. “Tidak usah meminta maaf. Kau tidak
bersalah.”
Naomi menunduk sejenak. Ketika ia mengangkat wajah lagi, Danny sudah
duduk di salah satu bangku taman di dekat kolam. Naomi menghampiri bangku itu
dan duduk di samping Danny. Selama beberapa saat mereka hanya duduk di sana
tanpa saling bicara. Suara yang terdengar hanyalah suara gemeresik dedaunan yang
ditiup angin dan suara lalu lintas di kejauhan.
“Aku akan kembali ke Korea,” kata Danny tiba-tiba.
Terkejut, Naomi mengangkat wajah dan menoleh menatap Danny. “Kenapa?”
Danny tersenyum samar, tidak langsung menjawab. Ia tidak mungkin
mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Naomi tanpa membuat gadis itu
khawatir. “Ada sedikit masalah keluarga,” katanya setelah berpikir sejenak.
“Masalah keluarga?”
“Mm,” gumam Danny, lalu menarik napas dalam-dalam. “Karena itu aku harus
pulang lebih cepat daripada yang kurencanakan.”
Naomi memalingkan wajah dan menggigit bibir. “Kapan?” tanyanya.
“Secepatnya.”
Naomi menatapnya dengan heran. Ia membuka mulut untuk mengatakan
sesuatu, tetapi tidak jadi.
“Aku bukannya ingin menghindarimu, Naomi,” kata Danny lembut, seolaholah
bisa membaca pikiran Naomi. “Aku tidak akan bisa menghindarimu walaupun
aku ingin.”
Naomi menatap Danny tidak mengerti.
Danny membuka mulut hendak menjelaskan, namun mengurungkan niatnya.
Saat ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Naomi pasti akan
mundur teratur begitu mendengarnya. Bahkan mungkin akan menarik diri dan
menghindari Danny selamanya. Kalau itu terjadi, Danny tidak yakin ia bisa
mengatasinya.
Tetapi saat ini ia sangat ingin mengatakan apa yang dirasakannya, apa yang ada
dalam hatinya. Danny menoleh ke arah Naomi. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan
padamu sejak dulu,” katanya. Lalu ia tersenyum. “Sampai sekarang aku belum
mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah
karena aku takut.”
Naomi masih tidak mengerti, namun ia mendapat dirinya menahan napas
mendengar Danny yang berbicara dengan suara yang rendah dan pelan.
“Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan? Apakah kau
akan menerima pengakuanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau
masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Atau apakah
justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku?” Saat itu Danny menatap mata
Naomi menarik napas panjang. “Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu.
Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti
setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.”
Menatap mata Danny membuat Naomi tidak bisa berpikir. Sesuatu dalam mata
Danny membuat Naomi berdebar-debar, membuat tenggorokannya tercekat,d an
membuat hatinya terasa nyeri.
“Jangan pergi dariku. Tetaplah di sisiku.”
Naomi tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata Danny. Ia masih tidak bisa
berpikir. Ia masih tidak bisa bersuara. Ia masih tidak bisa mendengar apa pun selain
suara Danny. Sedetik kemudian ia menyadari dirinya masih menahan napas
menunggu kata-kata Danny selanjutnya.
Namun ternyata Danny hanya tersenyum kecil penuh rahasia dan bergumam
lirih, “Karena itu... maukah kau menungguku?”
Naomi tertegun. Danny sedang menatapnya dengan penuh harap. Matanya
yang gelap seolah-olah bisa melihat ke dalam jiwa Naomi. Saat itulah pertama
kalinya Naomi mengerti apa yang dimaksud dengan tenggelam dalam mata
seseorang. Tatapan Danny membuatnya sulit bernapas, seolah-olah dunia mengecil
di sekeliling mereka, menyelubungi mereka.
the pond was indeed Naomi Ishida. It looks like the girl is being lost in thought as hestriding slowly and with his head down. And leads to the pond.Gosh.In a few steps, Danny has come in addition to Naomi andclutching his arm. "You want to plunge into the pool?"Naomi Jolt startled and lifted face. His eyes mengerjap the one time,then widened while his brain Digest who stood before him."Danny," she mumbled softly, then looked at him with a confused.After making sure Naomi stands some distance from the pond, Danny let gohis grip and stuffing his hands into the pockets of the pants. Duringa few seconds they just stood and looked at it without saying anything.Finally Danny open sound. "I never thought I could meet youhere. "Naomi nodded and berdeham. "I did too. I heard you went to Dublin. ""I returned to London yesterday afternoon.""Oh, it's so." He stared for a moment, then Danny with restless facestoward the trees on his left and muttering, "I'm sorry.""For what?"Naomi biting lip for a moment and looked back at Danny. "Because of the katakatakuthat time. I did not mean ... I just ... " Naomi stop katakatanyawho messed up and took a deep breath to control themselves. "TimeI was not thinking clearly. I'm sorry. "Danny sighed and smiled thinly. "No need to apologise. You're notguilty. "Naomi looked down for a moment. When he raised his face again, Danny alreadysitting in one of the park benches near the pool. Naomi approached the bench itand sitting next to Danny. For a while they just sit therewithout each other talk. Voice that sounds is simply the sound of the leaves rustlebefore the wind and the sound of traffic in the distance."I'm going back to Korea," said Danny suddenly.Surprised, Naomi raised her face and looked looked at Danny. "Why?"Danny smiled vaguely, did not immediately respond. It is not possiblesays the real reason to Naomi without making the girlworried. "There is a bit of family problems," he said after thinking for a moment."The problem of the family?""Mm," Danny gumam, then draw a deep breath. "Therefore I have tocome home sooner than kurencanakan. "Naomi turned face and biting of the lips. "When?" he asked."As soon as possible."Naomi stared at him with wonder. He opened his mouth to saysomething, but not so."I'm not like to menghindarimu, Naomi," said Danny soft, seolaholahcan read the thoughts of Naomi. "I will not be menghindarimu thoughI'd like to. "Naomi looked at Danny doesn't understand.Danny opens his mouth about to explain, but undo his intention.While this is not the right moment to reveal his feelings. Naomi will definitelyretreat regularly so to hear it. It might even be withdrawn andavoid Danny forever. If that happens, Danny wasn't sure he coulddeal with it.But he was anxious to say what he felt, what isin her heart. Danny turned toward Naomi. "There is something I want to sayof you since the first, "he said. Then he smiles. "Until now I have notsay it because ... well, for various reasons. And the main reason isbecause I'm scared. "Naomi still didn't understand, but he got himself holding my breathhear Danny speaks with a voice low and slow."If I say it, a reaction to what will give? Whether you'rewill receive pengakuanku? Are you going to believe me? Whether you'rewill still look at me like this? Smiled at me like this? Or doesThus you will get away from me? Left me? " That time Danny staring eyesNaomi took a deep breath. "But I knew I had to say it to you.I can't possibly save it forever. Somehow reaksimu laterAfter hearing it, I just wish one thing for you. "Staring eyes Danny make Naomi couldn't think. Something in your eyesDanny makes Naomi palpitations, make his throat tercekat, d anmake his heart feels pain."Don't go away from me. Stay on my side. "Naomi could not divert the gaze of the eye of Danny. He still could notthinking. He still couldn't speak. He still couldn't hear anything other thanthe voice of Danny. A second later she realized her still holding my breathwaiting for the next Danny's words.But it turns out that Danny is just a small smile full of secrets and mutteringsoftly, "because it ... will you waiting for me?"Naomi was stunned. Danny is being watched with great hope. His eyesthe dark as though it can look into the soul of Naomi. That's when the firsttime Naomi understand what is meant by drowning in the eyessomeone. Danny stares making it difficult to breathe, as if the world is shrinkingaround them, enveloping them.
ترجمه، لطفا صبر کنید ..
