namun usahanya itu tidak berhasil melenyapkan beban dalam dadanya. Juga tidak
berhasil membuat suasana hatinya membaik.
Sebenarnya Naomi tidak punya jadwal kerja pagi ini, namun ia terlalu resah
untuk duduk di rumah tanpa melakukan apa-apa, terlebih lagi setelah Miho datang
dan berkata bahwa Danny sedang berada di Dublin. Naomi mengembuskan napas
dengan keras. Ia harus menenangkan diri. Ia harus pergi ke tempat yang bisa
membuatnya tenang. Mungkin ia bisa ke salon. Atau ke Harrod‟s. Ya, berbelanja
selalu berhasil membuatnya gembira.
Namun anehnya, ia akhirnya tidak jadi pergi ke salon atau ke Harrod‟s. Tanpa
benar-benar disadarinya, langkah kakinya membawanya kembali ke taman kecil
yang pernah dikunjunginya bersama Danny. Tempat ia dan Danny pernah makan
fish and chips paling enak di London. Tempat yang justru selalu mengingatkannya
pada Danny Jo.
Benar-benar menyedihkan.
Taman itu sudah dipenuhi bunga, tepat seperti yang pernah dikatakan Danny,
namun Naomi hampir tidak memerhatikan keadaan di sekelilingnya. Ia hanya
menyusuri jalan setapak di samping kolam dengan kepala tertunduk dan
memikirkan... memikirkan... Astaga, ada apa dengannya? Naomi meringis dan
memukul kepalanya sendiri. “Bodoh. Jangan terus memikirkan orang itu.”
Tetapi kalau ia memang tidak mau memikirkan orang itu, kalau ia memang
tidak seharusnya memikirkan Danny Jo, kenapa di antara semua tempat yang bisa
dikunjunginya di London ia justru datang ke sini? Ia benar-benar menyedihkan.
Benar-benar...
Naomi terkesiap keras ketika lengannya mendadak dicengkeram, disusul suara
rendah dan datar yang berkata, “Kau mau terjun ke dalam kolam?”
Naomi mengerjap dan baru menyadari bahwa ia sudah berjalan menjauh dari
jalan setapak dan malah mengarah ke kolam. Apakah ia terlalu asyik melamun
sampai tidak memerhatikan jalan di depannya? Lalu Naomi tertegun. Tunggu...
Suara itu... Suara itu! Ia menoleh dengan cepat dan matanya langsung bersirobok
dengan mata gelap Danny Jo yang menatapnya dengan muram.
* * *
Danny menyandarkan punggung ke sandaran bangku taman dan mendongakkan
wajahnya ke arah langit London yang cerah. Mengherankan sekali. Cuaca di London
selalu bertentangan dengan suasana hatinya. Danny mengembuskan napas dan
menundukkan kepalanya kembali.
Sudah beberapa hari berlalu sejak ia terakhir kali bertemu dengan Naomi. Ia
juga tidak berusaha menemui gadis itu. Ia tahu Naomi butuh waktu untuk
menenangkan diri dan berpikir. Danny juga begitu. Namun sampai sekarang ia
tidak berhasil menyingkirkan perasaan bersalah dari dalam hatinya. Ia juga tidak
berhasil mengusir bayangan Naomi dari benaknya, terutama ketika Naomi berkata
bahwa ia selalu teringat pada orang yang telah menyakitinya setiap kali melihat
Danny.
Kenyataan itu membuat Danny frustrasi. Ia pernah berjanji pada diri sendiri
bahwa ia akan melakukan apa pun demi melindungi dan menjauhkan Naomi dari
rasa sakit. Tetapi bagaimana kalau orang yang selalu membuat Naomi menderita
adalah Danny sendiri? Apa yang bisa dilakukan Danny kalau begitu?
Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan itu, ponselnya berbunyi. Danny
mengembuskan napas dan mengeluarkan ponselnya yang terdengar memekakkan
di tengah-tengah taman sunyi itu.
“Halo?”
“In-Ho?” Suara Anna Jo terdengar agak resah di ujung sana. “Kau sedang di
mana? Sibuk?”
“Oh, Nuna. Tidak, aku sedang tidak sibuk. Ada apa?”
“Dengar, aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi kurasa kau harus tahu.”
Danny mengerutkan kening. “Ada apa? Ayah dan Ibu...?”
“Mereka baik-baik saja, In-Ho. Jangan khawatir. Ini bukan soal mereka,” kata
Anna cepat. Lalu ia terdiam sejenak, ragu. “Tapi aku tidak tahu bagaimana reaksi
mereka kalau mereka mendengar berita itu.”
“Berita apa?”
Anna Jo menarik napas. “Kudengar Kim Dong-Min baru kembali dari London.
Apakah kau bertemu dengannya di London?”
“Ya.”
“Apakah dia mengatakan sesuatu kepadamu? Tentang Seung-Ho Oppa?”
Danny tidak menjawab, malah balik bertanya, “Apa yang dikatakannya tentang
Hyong?”
Kerutan di kening Danny semakin dalam dan wajahnya berubah muram
sementara ia mendengarkan cerita kakak perempuannya. Beberapa menit
kemudian, ia berkata, “Aku tahu, Nuna. Jangan khawatir. Aku akan
membereskannya.”
Danny menutup dan mengembalikan ponselnya ke saku dengan pelan. Berita
yang disampaikan kakak perempuannya tadi tidak benar-benar membuatnya
terkejut, namun tidak berarti ia memperkirakan hal itu akan terjadi. Danny menarik
napas dan mengembuskannya dengan keras. Ia harus pulang ke Seoul. Tetapi
sebelum itu ia harus menghubungi para manajernya. Masalah ini harus segera
diatasi sebelum bertambah runyam.
Danny baru saja berdiri dari bangku dan hendak berbalik pergi ketika sudut
matanya menatap sosok seorang wanita di jalan setapak tidak jauh darinya. Danny
menoleh. Dugaannya benar. Yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di tepi
but his efforts did not manage to wipe out the burden in her breast. It is also notsuccessfully created moods improve.Naomi actually had no work schedule this morning, but he was too restlessfor sitting at home without doing anything, especially after Miho comeand said that Danny was in Dublin. Naomi exhaleswith a bang. He had to compose yourself. He had to go to a place that couldmake it quiet. Maybe he could get to the salon. Or to the Harrod ‟ s. Yes, shoppingalways managed to make her happy.But surprisingly, he ended up not so go to a salon or to the Harrod ‟ s. Withoutreally realising it, a step his feet took him back to the small gardenever they visit along with Danny. Where he and Danny never eatthe most delicious fish and chips in London. The place thus always reminded him ofon Danny Jo.Really pathetic.The Park was already filled with flowers, as Danny once said,but Naomi barely look at the circumstances around him. He justdown the path next to the pool with his head down andthinking about ... thinking ... Jeez, what is it with him? Naomi grimace andhitting his head alone. "Stupid. Don't keep thinking about that person. "But if he did not want to think of that person, if he is indeednot supposed to think of Danny Jo, why of all places that couldHe had visited in London he came here? It's really pathetic.Really ...Naomi gasped loudly when his arm suddenly gripped, followed by the sound oflow and flat that said, "you want to plunge into the pool?"Naomi mengerjap and realized that he had already walked away fromfootpaths and even leads to the pond. Whether he is too engrossed daydreamingto not look at the road in front of him? Then Naomi was stunned. Wait ...That voice ... That voice! She turned quickly and his eyes instantly bersirobokwith dark eyes that stared at her with Danny Jo grim.* * *Danny joins the back of the backrest to a park bench and mendongakkanhis face towards the skies of London. Surprisingly all. The weather in Londonalways at odds with the mood of her heart. Danny exhales andbowed his head again.Already a few days have passed since the last time he met with Naomi. Henor does trying to find the girl. He knew Naomi takes time tocompose yourself and think. Danny is also so. But until now henot got rid of the guilt of his heart. He also does notdrove her from Naomi's shadow, especially when Naomi said:that he always reminded people who have hurt him every time you seeDanny.That fact makes Danny frustration. He never promised myselfthat he will do anything for the sake of protecting and distanced from Naomithe pain. But what if the people who always make Naomi sufferedis Danny himself? What can be done if so Danny?Before he had time to answer that question, her cell phone rang. Dannyexhales and pulled out her cell phone that sounds memekakkanin the midst of the garden was silent."Hello?""In-Ho?" Anna Jo's voice sounds a bit restless at the end there. "You're inwhere is it? Busy? ""Oh, Nuna. No, I'm not busy. What is it? ""Listen, I don't want to make you worry, but I guess you should know."Danny frowned. "What is it? Mom and dad ...? ""They are fine, In-Ho. Don't worry. It's not about them, "saidAnna quickly. He then pause, hesitate. "But I don't know how the reactionthem if they heard the news. ""What News?"Anna Jo draw breath. "I heard Kim Dong-Min recently returned from London.Did you meet him in London? ""Yes.""Did she say anything to you? About Seung-Ho Oppa? "Danny didn't answer, instead turning to ask, "what does it say about theHyŏng? "Frown lines Danny getting in and her face turned grimWhile she was listening to her older sister. A few minutesthen, he said, "I know, Nuna. Don't worry about it. I'm going todeal with it. "Danny closes and returns your phone to the Pocket slowly. Newssubmitted sister earlier not really make itsurprised, yet doesn't mean he predicts it will happen. Danny drawsbreath and mengembuskannya. He had to return home to Seoul. Butbefore that he had to call the Manager. This problem should be immediatelybe addressed before growing desperate.Danny has just stood up from the bench and was about to turn away when the cornerher eyes stared at the figure of a woman on the trail not far from him. Dannyturned. The conjecture is true. Who was walking down a path on the edge of
ترجمه، لطفا صبر کنید ..
