Haruka mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Bai ترجمه - Haruka mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Bai انگلیسی چگونه می گویند

Haruka mengeluarkan kunci pintu dar

Haruka mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Baiklah,
aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Keiko.”
“Selamat malam.” Keiko melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambil
menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkus
sarung tangan.
Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintu
apartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pun
dari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak ada
suara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.
Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Keiko. Bagaimana kalau penyewa
baru itu jatuh sakit? Keiko cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu.
Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah.
Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Osawa sedang tidak memerhatikan.
Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejak
pagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempat
tidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong?
Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan?
Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?!
Keiko menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelan
kepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiran
buruk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membaca
buku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi...
Keiko maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Ia
menyapu poninya yang terpotong rapi dari kening dan menarik napas panjang.
Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintu
dengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telinga
kirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana.
Apakah ia harus memanggil Kakek Osawa? Rasanya tidak enak mengganggu
Kakek malam-malam begini. Tapi...
Keiko masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itu
mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yang
masih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Ia
sempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin.
“Aduh, aduh, aduh... Kepalaku, aduh, pantatku...” Keiko mengerang sambil
mengusap sisi kepalanya, sama sekali tidak sadar bahwa ia mengerang dalam bahasa
ibunya.
Dua-tiga detik kemudian, Keiko tersadar kembali dan langsung mendongak.
Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu
apartemen 201 yang terbuka. Awalnya Keiko tidak bisa melihat dengan jelas sosok
yang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun
kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di
koridor meneranginya.
Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang
gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan
lusuh. Keiko tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh
kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Keiko juga tidak bisa menebak apa
yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah?
Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. “Kau
tidak apa-apa?”
Keiko tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.
* * *
Nishimura Kazuto terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama
yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar
jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu
memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak.
Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Tokyo menguras
tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan
penerbangan jauh.
Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan
terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat.
Kazuto memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah
dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan
menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar.
Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang
duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Kazuto. Ia tidak mau
menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar
yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang.
Ia haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar. Kapan terakhir kali ia
makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena sama
sekali tidak berselera. Pantas saja sekarang ia kelaparan.
0/5000
از: -
به: -
نتایج (انگلیسی) 1: [کپی کنید]
کپی شد!
Haruka mengeluarkan kunci pintu dari tas tangannya dan tersenyum. “Baiklah,aku harus masuk dan memberi makan adikku yang manja itu. Selamat malam, Keiko.”“Selamat malam.” Keiko melambaikan tangan dan bergegas menaiki tangga sambilmenggosok-gosok kedua tangannya yang terasa dingin walaupun sudah terbungkussarung tangan.Ketika mencapai pintu apartemennya, ia berhenti lalu menoleh dan menatap pintuapartemen 201. Keningnya berkerut. Ia sama sekali tidak mendengar suara apa pundari balik pintu. Benarkah sudah ada yang menyewa apartemen itu? Kenapa tidak adasuara? Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.Tiba-tiba pikiran buruk melintas dalam benak Keiko. Bagaimana kalau penyewabaru itu jatuh sakit? Keiko cepat-cepat menggeleng untuk mengenyahkan gagasan itu.Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin saja orang itu sedang tidak ada di rumah.Bisa saja orang itu keluar rumah ketika Nenek Osawa sedang tidak memerhatikan.Tapi tetap saja ada kemungkinan penyewa baru itu benar-benar belum keluar sejakpagi. Bagaimana kalau orang itu sakit dan terlalu lemah untuk bangun dari tempattidur? Bagaimana kalau orang itu tidak punya siapa-siapa untuk dimintai tolong?Bagaimana kalau orang itu menderita penyakit jantung dan sekarang sedang kesakitan?Bagaimana kalau ia jatuh pingsan di dalam sana? Bagaimana kalau ia sedang sekarat?!Keiko menggigil memikirkan kemungkinan itu. Kemudian ia menepuk pelankepalanya yang tertutup topi rajutan putih. Ah, tidak mungkin. Jangan berpikiranburuk. Sejak kecil daya imajinasinya memang hebat karena terlalu banyak membacabuku. Mungkin seharusnya ia menjadi penulis buku fantasi. Tapi...Keiko maju selangkah mendekati pintu apartemen 201 dengan ragu-ragu. Iamenyapu poninya yang terpotong rapi dari kening dan menarik napas panjang.Kemudian setelah membulatkan tekad, ia menempelkan telinga kanannya ke pintudengan hati-hati. Tidak terdengar apa-apa. Ia memutar kepalanya dan kali ini telingakirinya yang ditempelkan ke pintu. Masih tetap sunyi senyap di dalam sana.Apakah ia harus memanggil Kakek Osawa? Rasanya tidak enak menggangguKakek malam-malam begini. Tapi...Keiko masih sibuk menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan ketika pintu itumendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat, membuat kepalanya yangmasih menempel di daun pintu kehilangan sandaran dan tubuhnya jatuh ke depan. Iasempat memekik kaget sebelum jatuh terduduk di lantai batu yang dingin.“Aduh, aduh, aduh... Kepalaku, aduh, pantatku...” Keiko mengerang sambilmengusap sisi kepalanya, sama sekali tidak sadar bahwa ia mengerang dalam bahasaibunya.Dua-tiga detik kemudian, Keiko tersadar kembali dan langsung mendongak.Matanya terbelalak kaget, terpaku pada sosok jangkung yang berdiri di ambang pintuapartemen 201 yang terbuka. Awalnya Keiko tidak bisa melihat dengan jelas sosokyang berdiri di sana karena bagian dalam apartemen itu gelap gulita. Namun
kemudian ia bisa melihat lebih jelas ketika sosok itu maju selangkah dan sinar lampu di
koridor meneranginya.
Laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sana terlihat berantakan. Rambutnya yang
gelap awut-awutan, sweter hitam dan celana jins yang dikenakannya juga kelihatan
lusuh. Keiko tidak bisa menebak umur laki-laki itu karena penampilannya sungguh
kacau dan sepertinya ia belum bercukur hari ini. Keiko juga tidak bisa menebak apa
yang sedang dipikirkan orang itu. Terkejut? Heran? Marah?
Beberapa saat kemudian laki-laki itu berkata dengan nada rendah dan serak. “Kau
tidak apa-apa?”
Keiko tidak sempat menjawab, karena mendadak saja suasana menjadi heboh.
* * *
Nishimura Kazuto terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama
yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang gelap gulita. Ia melirik ke luar
jendela. Langit di luar gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Ia mengerang, lalu
memejamkan mata sejenak. Ia masih lelah sekali. Badannya menolak untuk bergerak.
Pelipisnya berdenyut-denyut. Penerbangan dari New York ke Tokyo menguras
tenaganya dan membuatnya jet-lag. Ia memang tidak pernah suka melakukan
penerbangan jauh.
Tenggorokannya kering. Ia harus minum sebelum tubuhnya dehidrasi. Kapan
terakhir kali ia minum? Ia tidak ingat. Mungkin sewaktu di pesawat.
Kazuto memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah
dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri. Lalu perlahan ia bangkit dan
menyeret kakinya yang berkaus kaki tebal keluar dari kamar.
Sinar bulan dan lampu jalan yang masuk lewat pintu kaca balkon menerangi ruang
duduk. Penerangan remang-remang itu sudah cukup bagi Kazuto. Ia tidak mau
menyalakan lampu karena matanya bahkan belum terbiasa dengan penerangan samar
yang ada, apalagi sinar lampu yang terang benderang.
Ia haus dan ia baru menyadari bahwa perutnya juga lapar. Kapan terakhir kali ia
makan? Sewaktu di pesawat? Ia ingat ia hanya makan sedikit di pesawat karena sama
sekali tidak berselera. Pantas saja sekarang ia kelaparan.
ترجمه، لطفا صبر کنید ..
نتایج (انگلیسی) 2:[کپی کنید]
کپی شد!
Haruka issued a door lock from her purse and smiling. "Well,
I should go and feed my sister who spoiled it. Goodnight, Keiko. "
" Good night. "Keiko waved and hurried up the stairs,
rubbing his hands felt cold despite being encased in
gloves.
When it reached his apartment door, he stopped and turned and looked at the door of
apartment 201. frowns , He did not hear any sound
from behind the door. Has it been anyone renting the apartment? Why is there no
sound? There are absolutely no signs that there were people inside.
Suddenly the bad thoughts occurred to Keiko. What if the tenant
of the new fall ill? Keiko quickly shook his head to get rid of the idea.
Do not think that strange. Maybe people are not at home.
It could be that person out of the house when Grandma Osawa was not paying attention.
But still there is the possibility of a new tenant it really has not been out since
morning. What if he was ill and too weak to get up out of
bed? What if the person does not have anyone to for help?
What if the person is suffering from heart disease and was in pain now?
What if he fainted in there? What if he was dying ?!
Keiko chills thinking about that possibility. Then he gently patted
her head covered in a white knit cap. Ah, is not possible. Do not think
badly. Since childhood imagination is great because too many read
the book. Perhaps he should be the author of fantasy books. But ...
Keiko took a step toward the apartment door 201 with hesitation. He
swept bangs trimmed from his forehead and took a deep breath.
Then once determined, he put his ear to the door
with caution. Not heard anything. He turned his head and this time the ear
of his left taped to the door. Remained silent in there.
Does he have to call Grandpa Osawa? It felt uncomfortable disturbing
grandfather the night like this. But ...
Keiko still busy pondering what to do when the door
suddenly swung open with one swift motion, making head
was still attached to the door leaf loss backrest and body to fall forward. He
was squealing in surprise before sat down on the cold stone floor.
"Ouch, ouch, ouch ... My head, oh, my ass ..." Keiko groaned as he
rubbed the side of his head, totally unaware that he groaned in the language of
his mother.
Two -three seconds later, Keiko regained consciousness and immediately looked up.
His eyes widened in surprise, glued to the tall figure standing in the doorway of
the apartment 201 are open. Initially Keiko could not clearly see the figure
standing there because the inside of the apartment was dark. But
then he could see more clearly when the figure was a step forward and the lights in
the corridors illuminate it.
The man is tall standing there looks messy. His hair is
dark untidy, black sweater and jeans he wore also look
shabby. Keiko could not guess the age of the man because of his appearance really
messed up and seems like he has not shaved today. Keiko also could not guess what
he was thinking that person. Surprised? Wonder? Angry?
A few moments later the man said in a voice low and husky. "You
did nothing?"
Keiko could not answer, because suddenly the atmosphere became excited.
* * *
Nishimura Kazuto wakes up groggy and rigid bodies. The first thing
he noticed was the state of the pitch-black room. She glanced out
the window. The sky was dark outside. Already malamkah? What time is it? He groaned, then
closed his eyes for a moment. He was still tired. Her body refused to move.
Temples throbbing. Flights from New York to Tokyo to drain
his energy and make jet-lag. He was never like doing
long flight.
His throat was dry. He had to drink before his body dehydrated. When was
the last time he drank? He does not remember. Maybe while on a plane.
Kazuto forced herself to get up and sit on the edge of the bed. She rubbed her face
with both hands for a bit of self-awareness. Then slowly he got up and
shuffled the thick socks out of the room.
The moonlight and street lights coming through the glass balcony doors illuminate the space
to sit. Dim lighting that is enough for Kazuto. He did not want to
turn on the lights for eyes even a faint illumination unfamiliar with
the existing, let alone beam bright lights.
He was thirsty and he realized that his stomach was hungry. When was the last time he
ate? While on the plane? He remembered he only ate a little on the plane because the same
was not tasteful. No wonder now he is starving.
ترجمه، لطفا صبر کنید ..
 
زبانهای دیگر
پشتیبانی ابزار ترجمه: آذرباﻳﺠﺎﻧﻰ, آلبانیایی, آلمانی, اردو, ارمنی, ازبکی, استونيايی, اسلواکی, اسلونیایی, اسپانیایی, اسپرانتو, افریکانس, امهری, اندونزی, انگلیسی, اودیه (اوریه), اویغوری, ايسلندی, اکراينی, ایتالیایی, ایرلندی, ایگبو, باسکی, برمه\u200cای, بلاروسی, بلغاری, بنگالی, بوسنیایی, تاتار, تاجیک, تاميلی, تايلندی, ترکمنی, ترکی استانبولی, تلوگو, جاوه\u200cای, خمری, خوسایی, دانمارکی, روسی, رومانيايی, زولو, ساموایی, سبوانو, سندی, سوئدی, سواهيلی, سوتو, سودانی, سومالیایی, سینهالی, شناسایی زبان, شونا, صربی, عبری, عربی, فارسی, فرانسوی, فريسی, فنلاندی, فیلیپینی, قرقیزی, قزاقی, كرسی, لائوسی, لاتين, لتونيايی, لهستانی, لوگزامبورگی, ليتوانيايی, مائوری, مالايی, مالاگاسی, مالایالمی, مالتی, مجاری, مراتی, مغولی, مقدونيه\u200cای, نروژی, نپالی, هاوایی, هلندی, همونگ, هندی, هوسا, ولزی, ويتنامی, يونانی, پرتغالی, پشتو, پنجابی, چوایی, چک, چینی, چینی سنتی, ژاپنی, کاتالان, کانارا, کرئول هائیتی, کردی, کره\u200cای, کرواتی, کلینگون, کینیارواندا, گاليک اسکاتلندی, گالیسی, گجراتی, گرجی, یدیشی, یوروبایی, ترجمه زبان.

Copyright ©2026 I Love Translation. All reserved.

E-mail: